MERAIH SURGA DENGAN TAAT KEPADA ORANG TUA
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ ...
فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.
Ma’asyiral Muslimin Rahimani wa Rahimakumullah!!
Pada
kesempatan yang mulia ini khotib mengajak dan mengingatkan diri khatib sendiri
serta jama’ah pada umumnya agar kita senantiasa meningkatkan iman dan taqwa
kepada Allah subhanahu wata’ala , dengan melaksanakan ketaatan
kepada-Nya sesuai dengan nur atau cahaya dari Allah subhanahu wata’ala
yang telah disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,
semata-mata mengharapkan ridha dan pahala dari Allah subhanahu wata’ala,
dan kita tinggalkan ma’siat kepada Allah subhanahu wata’ala sesuai
dengan nur yang telah disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
karena kita takut akan adzad dan siksa-Nya. Dan kita jadikan taqwa ini sebagai
bekal kita dalam mengarungi kehidupan, baik di dunia yang fana ini atau di
akhirat yang kekal kelak , karena dia adalah sebaik baik bekal.
وَتَزَوَّدُوا
فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى
فَاتَّقُوا اللهَ يَا عِبَادَ اللهِ فَإِنَّ اللهَ مَعَ الَّذِينَ وَاَّلذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ
فَاتَّقُوا اللهَ يَا عِبَادَ اللهِ فَإِنَّ اللهَ مَعَ الَّذِينَ وَاَّلذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ
"Maka
bertaqwalah wahai hamba-hamba Allah , karena Allah bersama orang-orang yang
bertaqwa dan bersama orang-orang yang berbuat kebaikan".
Ma’asyiral Muslimin Rahimani wa Rahimakumullah!!
Ma’asyiral Muslimin Rahimani wa Rahimakumullah!!
Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam surat Ali
Imron: 133, Artinya, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan
kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk
orang-orang yang bertaqwa”. Dan dalam ayat lain Allah subhanahu wata’ala
berfirman dalam surat al-Muthaffifin: 26. Artinya, “Dan untuk yang demikin
itu hendaknya orang berlomba-lomba.”
Dan dalam ayat lain Allah subhanahu wata’alaberfirman dalam surat ash-Shaffat: 61, Artinya, “Untuk kemenangan serupa ini hendaklah berusaha orang-orang yang bekerja.” Dalam ketiga ayat ini Allah subhanahu wata’ala menyuruh kita untuk berlomba-lomba atau untuk bersegera dalam mendapatkan jannah (surga)-Nya, namun yang menjadi pertanyaan sekarang adalah dengan apa jannah itu diraih?
Ma’asyiral Muslimin Rahimani wa Rahimakumullah!!
Dan dalam ayat lain Allah subhanahu wata’alaberfirman dalam surat ash-Shaffat: 61, Artinya, “Untuk kemenangan serupa ini hendaklah berusaha orang-orang yang bekerja.” Dalam ketiga ayat ini Allah subhanahu wata’ala menyuruh kita untuk berlomba-lomba atau untuk bersegera dalam mendapatkan jannah (surga)-Nya, namun yang menjadi pertanyaan sekarang adalah dengan apa jannah itu diraih?
Ma’asyiral Muslimin Rahimani wa Rahimakumullah!!
Ada
beberapa jalan untuk meraih jannah, dan di antara jalan itu adalah ta’at
kapada orang tua. Dan cukup banyak ayat-ayat al-Qur'an yang menerangkan
tentang itu. Bahkan dalam beberapa ayat, Allah subhanahu wata’ala
merangkaikan ketaatan kepada orang tua dengan beribadah kepada-Nya. Allah subhanahu
wata’ala berfirman dalam surat an-Nisa: 36. Artinya, “Sembahlah
Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.”
Dan dalam surat al-Isra: 23, Allahsubhanahu wata’ala berfirman, Artinya, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. ”Diulang-ulangnya ayat yang menerangkan berbuat baik kepada orang tua, dan dirangkaikannya ketaatan kepada keduanya dengan ketaatan kepada Allah subhanahu wata’ala menunjukkan tentang keutamaan birrul walidain (berbakti kepada orang tua). Hal ini juga didukung dengan beberapa hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallamyang menerangkan tentang keutamaan birrul walidain.Di antara hadits itu adalah apa yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ,
Dan dalam surat al-Isra: 23, Allahsubhanahu wata’ala berfirman, Artinya, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. ”Diulang-ulangnya ayat yang menerangkan berbuat baik kepada orang tua, dan dirangkaikannya ketaatan kepada keduanya dengan ketaatan kepada Allah subhanahu wata’ala menunjukkan tentang keutamaan birrul walidain (berbakti kepada orang tua). Hal ini juga didukung dengan beberapa hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallamyang menerangkan tentang keutamaan birrul walidain.Di antara hadits itu adalah apa yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ,
جَاءَ
رَجُلٌ إِلىَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ
اللهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَاْبَتِي؟ قَالَ : ( أُمُّكَ ) قَالَ :
ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: (أُمُّكَ ) قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: (أُمُّكَ ) قَالَ :
ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ : أََبُوكَ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Artinya,
“Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,
lalu bertanya, “Ya Rasulullah! Siapakah manusia yang paling berhak aku pergauli
dengan baik? “Rasulullah menjawab, “Ibumu”. Dia bertanya lagi, “Kemudian
siapa?” Rasulullah menjawab, “Ibumu” Dia bertanya lagi, “Kemudian
siapa?” Rasulullah menjawab, “Ibumu”. Dia bertanya lagi, “Kemudian
siapa?” Rasulullah menjawab, “Bapakmu”. (HR Bukhori kitab al-Adab &
Muslim kitab al-Birr wa ash-Shilah)
Dan dalam hadits lain disebutkan,
Dan dalam hadits lain disebutkan,
جَاءَ
رَجُلٌ إِلىَ رَسُول اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلمَ يَسْتَأْذِنُهُ فِي
اْلجِهَادِ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَّ
(أَحَيٌّ وَالِدَاكَ ) قَالَ : نَعَمْ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلّمَ : (فَفِيهِمَا فَجَاهِدْ )
Artinya,
“Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallammeminta
ijin kepadanya untuk ikut berjihad. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam bertanya kepadanya, “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?”
Dia menjawab, “Ya”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallamberkata
kepadanya, “Berjihadlah (dengan berbakti) pada keduanya.” (HR Bukhori
kitab al-Adab & Muslim kitab al-Birr wa ash-Shilah)
Ma’asyiral Muslimin Rahimani wa Rahimakumullah!!
Ma’asyiral Muslimin Rahimani wa Rahimakumullah!!
Keutamaan
birrul walidain yang lain adalah, bahwa hal itu merupakan sifat para
Nabi ’alaihimussalam . Allah subhanahu wata’ala berfirman tentang
Nabi Nuh ’alaihissalam (QS. Nuh: 28 ), Artinya, “Ya Tuhanku ampunilah
aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang
yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi
orang-orang yang zhalim itu selain kebinasaan”.
Allah subhanahu wata’ala juga mengisahkan Nabi Ibrahim ’alaihissalam dengan firman-Nya, (QS Maryam: 47), Artinya, “Ibrahim berkata, “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan meminta ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku.”
Allah subhanahu wata’ala juga mengisahkan Nabi Ibrahim ’alaihissalam dengan firman-Nya, (QS Maryam: 47), Artinya, “Ibrahim berkata, “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan meminta ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku.”
Juga pujian Allah kepada Nabi Yahya ’alaihissalam
(QS Maryam: 14 )
Artinya, “Dan banyak berbakti kepada kedua orang tuanya, dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka .”Juga pujian Allah subhanahu wata’ala kepada Nabi ‘Isa ’alaihissalam (QS Maryam: 32 )
Artinya, “Dan berbakti kepada ibuku , dan Dia tidak menjadikan aku sebagai seorang yang sombong lagi celaka.”
Artinya, “Dan banyak berbakti kepada kedua orang tuanya, dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka .”Juga pujian Allah subhanahu wata’ala kepada Nabi ‘Isa ’alaihissalam (QS Maryam: 32 )
Artinya, “Dan berbakti kepada ibuku , dan Dia tidak menjadikan aku sebagai seorang yang sombong lagi celaka.”
Itulah
sirah dan sikap para Nabi ’alaihimussalam kepada orang tua mereka, dan
jalan mereka itulah jalan yang lurus/ shirathal mustaqim, yang selalu
kita minta dalam shalat kita.
اهدنا
الصراط المستقيم
Allah
subhanahu wata’alaberfirman (QS. an-Nisa: 69), Artinya, “Dan
barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama
dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu Nabi-Nabi, para
shiddiqqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang yang shaleh.Dan mereka
itulah teman sebaik-baiknya.”
Dan inilah salah satu jalan untuk meraih surga. Namun yang perlu diperhatikan adalah, bahwa berbuat baik kepada keduanya bukan berarti kita harus melaksanakan semua perintah mereka.
Allah subhanahu wata’alaberfirman dalam QS. Luqman:15
Artinya, “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya dengan baik, dan ikutlah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
Dan inilah salah satu jalan untuk meraih surga. Namun yang perlu diperhatikan adalah, bahwa berbuat baik kepada keduanya bukan berarti kita harus melaksanakan semua perintah mereka.
Allah subhanahu wata’alaberfirman dalam QS. Luqman:15
Artinya, “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya dengan baik, dan ikutlah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
Sa’ad
bin Waqqosh radhiyallahu ‘anhu berkata, “Diturunkan ayat ini (QS.
Luqman: 15) (berkaitan dengan masalahku), Dia berkata, “Aku adalah seorang yang
berbakti kepada ibuku, maka tatkala aku masuk Islam, dia berkata, “Wahai Sa’ad
apa yang aku lihat dengan apa yang baru darimu?” “Tinggalkan agama barumu itu
kalau tidak, aku tidak akan makan dan minum sampai aku mati sehingga kamu
dicela dengan sebab kematianku dan kau akan dipanggil dengan wahai pembunuh
ibunya”. Maka aku katakan kepadanya, “Jangan kau lakukan wahai ibuku,
sesungguhnya aku tidak akan meninggalkan agamaku ini untuk siapa saja”. Maka
dia (ibu Sa’ad) diam, tidak makan selama sehari semalam, maka dia kelihatan
sudah payah. Kemudian dia tidak makan sehari semalam lagi, maka kelihatan
semakin payah. Maka tatkala aku melihatnya aku berkata kepadanya, “Hendaklah
kau tahu wahai ibuku, seandainya kau memiliki seratus nyawa, dan nyawa itu
melayang satu demi satu, maka tidak akan aku tigggalkan agama ini karena apapun
juga, maka kalau kau mau makan makanlah , kalau tidak maka jangan makan”.
Lantas diapun makan.”(Tafsir Ibnu Katsir )
Walaupun kita harus berbuat baik kepada keduanya, bukan
berarti kita boleh memintakan ampunan kepada Allah subhanahu wata’alabagi
mereka. Allah
subhanahu wata’ala berfirman, (QS at-Taubah: 113)
Artinya, “Tidak sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allahsubhanahu wata’ala) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabatnya, sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahannam.”
Artinya, “Tidak sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allahsubhanahu wata’ala) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabatnya, sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahannam.”
Ma’asyiral
Muslimin Rahimani wa Rahimakumullah!!
Allah subhanahu wata’ala menyediakan balasan/
pahala yang besar bagi siapa yang taat pada orang tuanya.Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda,
ِرضَى
الرَّبِّ فِي رِضَى اْلوَالِدِ وَسُخْطُ الرَّبِّ فِي سُخْطِ اْلوَالِدِ (رواه
الترمذي و صححه الألباني)
Artinya,
“Ridha Allah pada / tergantung ridha bapak dan murka Allah pada murka orang
tua.” ( HR Tirmidzi kitab al-Birr wa ash-Shilah, dishahihkan oleh al-Albany
)
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku
bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Apakah
perbuatan yang paling utama?” Rasulullah
menjawab, “Iman kepada Allah dan Rasul-Nya”. “Kemudian apalagi?” Rasulullah
menjawab, “Berbuat baik kepada Orang tua. “Kemudian apalagi?” Rasulullah
menjawab, “Berjuang di jalan Allah.” (HR Bukhari kitab al-Hajj dan Muslim bab
Bayan kaunil iman billah min afdhailil a’mal)
Dan pahala yang besar ini tidak kita mudah dapatkan
kecuali dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban kepada orang tua kita
Semoga Allah subhanahu wata’ala memberikan taufiq dan kekuatan kekuatan kepada kita semua supaya kita bisa berbuat baik kepada kedua orang tua kita.
Semoga Allah subhanahu wata’ala memberikan taufiq dan kekuatan kekuatan kepada kita semua supaya kita bisa berbuat baik kepada kedua orang tua kita.
أَقُوْلُ
قََوْلِي هَذَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمُ











